Pemerintah bertekad memajukan desa, salah satu kebijakan yang ditempuh adalah dengan rencana menyalurkan Dana Desa. Dana Desa diharapkan dimanfaatkan untuk mewujudkan program-program kreatif berkelanjutan agar desa jadi berdaya.

Tentunya desa butuh pendampingan dan pengawasan. Oleh karena itu pemerintah memerlukan mitra yang dapat menjadi pendamping desa, salah satunya dari kalangan perguruan tinggi.

Tantangan itu ditanggapi oleh Universitas Jember (Unej), seperti yang dilakukan oleh Program Studi Diploma 3 Keperawatan Fakultas Keperawatan UniversitasJember Kampus Lumajang.

Melalui Kelompok Riset (KeRis) Disaster Emergency and Nursing Studies (Densus), mereka turut membina Desa Burno, Kecamatan Senduro dengan segala potensinya untuk menjadi Desa Eduwisata berbasis Agronursing melalui Sekolah Desa.

Tim Humas dan Protokol Universitas Jember pekan lalu  berkesempatan mengunjungi Desa Burno dan melihat perkembangan yang terjadi di desa tersebut.

Hawa sejuk langsung terasa begitu tim memasuki Desa Burno yang berada di kaki Gunung Semeru. Dengan profil topografi daerah yang berada di ketinggian 900 Mdpl, Desa Burno memang cocok sebagai lokasi tetirah alias wisata. Potensi wisata alam ada, misalnya Wana Wisata Siti Sundari, air terjun Watu Silo hingga trekking ke Ranu Pane hingga puncak Semeru. Atau ingin menikmati kesegaran susu kambing Senduro dan susu sapi perah sambil ngemil kripik pisang Mas Kirana ? Semuanya menarik hati.

“Desa Burno punya banyak potensi wisata, tinggal bagaimana kita mengemasnya lebih baik agar wisatawan mau datang. Kedua, kami dari Universitas Jember Kampus Lumajang ingin mengembangkan konsep Eduwisata berbasis agronursing di sini,” tutur Anggia Astuti, koordinator Sekolah Desa yang pagi itu menemani kami. Pagi itu 20 warga Desa Burno tengah berdiskusi dan berlatih di balai desa setempat bersama para dosen Universitas Jember Kampus Lumajang.

“Materi Sekolah Desa hari ini adalah bagaimana warga desa memberikan penjelasan kepada wisatawan mengenai lokasi wisata atau produk yang mereka hasilkan, ibaratnya mereka jadi pemandu wisata,” imbuh Anggia Astuti.

hasil pertanian Desa Burno

KeRis Densus Universitas Jember Kampus Lumajang sendiri mulai membina warga Desa Burno semenjak bulan September lalu. Setiap minggunya, para dosen bergantian memberikan materi di kelas dan mendampingi praktik para warga desa hingga nanti dua bulan ke depan.

Menurut Suhari, Ketua KeRis Densus, Sekolah Desa digelar dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi petani dan peternak yang tidak bisa diselesaikan secara individu.

Adanya kegiatan sekolah desa diharapkan mampu menciptakan kelompok tani-peternak yang paham apa itu agronursing, sehingga tercipta kawasan wisata yang sehat, higienis, aman, dan nyaman.

Agronursing sendiri adalah penatalaksanaan manajemen pelayanan keperawatan  dan asuhan keperawatan, dalam ruang lingkup pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan serta agroindustri, yang menjadi visi misi Program Studi Diploma 3 Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember Kampus Lumajang.

Materi yang diberikan dalam Sekolah Desa meliputi pengenalan dan pemahaman akan pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3 di area pertanian dan peternakan.

“Warga Desa Burno kami latih menggunakan alat pelindung diri saat bekerja di lahan dan kandang ternak, termasuk praktik mencuci tangan yang benar. Ke depan, prosedur ini juga akan diterapkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Desa Burno,” jelas Suhari.

Sekolah desa ini dinamakan Anoman Burno, singkatan dari Agronursing for Tourism and Education. Program yang diusung oleh Universitas Jember Kampus Lumajang didukung oleh Heri Nurhandoyo, Sekertaris Desa Burno. Menurutnya banyak potensi di desanya, namun memang belum ada program yang terintegrasi yang mampu mensinergikan semua potensi tadi. “Kami

menyambut gembira adanya Sekolah Desa di desa kami, banyak ilmu dan pengetahuan baru bagi warga Desa Burno,” ungkapnya. Desa Burno sendiri memiliki penduduk sejumlah 4.720

Petani dan Peternak

Warga Desa Burno dengan pendampingan Universitas Jember Kampus Lumajang memang sepakat menampilkan konsep eduwisata di desanya. Artinya wisatawan nantinya tidak hanya menikmati keindahan alam saja, tapi juga diajak bertani dan berternak.

“Konsepnya wisatawan disodori berbagai paket wisata, misalnya Paket Wisata Pisang dimana wisatawan akan diajak belajar bagaimana budidaya pisang Mas Kirana yang khas Lumajang. Dari menanam hingga memanen, termasuk belajar pembuatan kripik pisang. Bahkan kami mengajak wisatawan memanen kopi,” kata Arista Maysaroh salah seorang dosen yang aktif mendampingi warga desa Burno.

Paket wisata lain yang ditawarkan adalah Wisata Kambing dan Wisata Sapi, dimana wisatawan diajak belajar memelihara kambing Senduro atau sapi perah hingga berkesempatan memerah susunya.|ikh

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here