Ternyata, obat putus cinta adalah jatuh cinta lagi. Aku memilihnya untuk menghadirkan rasa itu kembali….

Lelah kutempuh sepanjang 30 km perjalanan darat dari bandara. Untungnya, jalan itu kini semakin mulus, lebar dan layak dijelajahi. Tak terlalu melelahkan sih apalagi sambil nguping All of Me-nya John Legend, atau Perfect-nya Ed Sheeran.

Dua tahun sudah aku meninggalkannya, mencampakkannya. Dan, tak sedikit pun dia berubah. Tetap seperti dulu: keindahan yang memang kebangetan! Ratusan bebatuan granit raksasa yang sangat artistik itu kokoh menjulang membentuk bangunan batu. Mereka menyebar di antara semenanjung dan laut lepas.

Dulu, Tanjung Tinggi bernama Pelabuhan Bilik, yaitu pelabuhan nelayan khusus bagi desa Keciput atau Tanjung Tinggi, kabupaten Belitung. Belakangan, desa Keciput dan sekitarnya berubah fungsi menjadi tempat rehat, ruang santai sambil ngupi dan makan enak dengan menu hidangan laut.

Nah, selepas rehat, aku rindu bebatuan itu. Dari kejauhan, warna-warni granit begitu menggoda. Seketika aku menghampirinya.

Aku bermain-main seperti anak ingusan, memasuki granit berbentuk gua untuk sekedar berteduh dari panas dan (jika) hujan, melompati granit satu-satu seperti the bounty hunter yang berambisi merebut lolipop.

Dan iya, aku rela mandi matahari, berlompatan hingga tiba di puncak granit dengan nafas senin-kamis demi rasa cintaku: berdiri di puncak bebatuan sambil memandangi samudera lepas berwarna-warni… hijau muda hingga tosca, biru muda hingga biru tua, sapuan ombak yang lembut hingga aroma laut.

Rindu itu kulampiaskan lagi dengan terbang mengudara hingga daya gravitasi mendorong dan menghempaskan tubuhku ke permukaan air laut. Sungguh, sesaat kemudian aku menari-nari bersama puluhan bidadari bawah air sana.

Sayang, aku tak mampu menghadirkan Scott “You are the Reason” Calum sebagai apresiasi untuk tarian indah para bidadari itu. Namun setidaknya, mereka telah menuntun kecintaanku kembali pada samudera biru…. | fe, wd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here