BNPB Gandeng UI Kembangkan Portal Risiko Bencana Covid-19

162

Setelah berhasil menciptakan dan merilis Peta Daring Sebaran Covid-19 atau disebut SiCovid-19 pada 19 Maret 2020 yang lalu, Gabungan Tim Ahli dan Peneliti Universitas Indonesia (UI) di bawah koordinasi Direktorat Inovasi dan Science Techno Park UI digandeng oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk berkolaborasi mengembangkan Portal InaRISK.

Data serta engine yang telah dikembangkan UI pada portal SiCovid-19 akan digunakan oleh Portal InaRISK untuk menekan indeks risiko bencana.

Saat ini, BNPB sudah memiliki portal InaRISK (http://inarisk.bnpb.go.id/) untuk mengkaji risiko serta memberikan gambaran cakupan wilayah ancaman bencana serta populasi terdampak untuk dapat mengurangi indeks risiko bencana.

“Data yang digunakan oleh InaRISK adalah data yang sama dengan data SiCovid-19, kami memberikan model builder yang dapat digunakan untuk generate model tersebut. Kami memberikan engine-nya kepada BNPB sehingga BNPB dapat langsung melakukan update data baik yang masyarakat yang positif terinfeksi Covid-19, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP)”,” ujar Inovator SiCovid-19, Ardiansyah, S.Si di kampus UI Depok, Selasa (31/03/2020),

Menurutnya, SiCovid-19 adalah portal webGIS karya gabungan peneliti UI ini memiliki kemampuan untuk memetakan penduduk yang terinfeksi Covid-19, persebaran lokasi pasien yang positif terinfeksi Covid-19, serta membantu pemerintah dalam memetakan daerah yang rawan kasus infeksi baru (https://sicovid19-geography-ui.hub.arcgis.com/).

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris menambahkan, UI akan terus mendukung Pemerintah dalam menghadapi pandemik global yang terjadi dengan menghadirkan tim Ahli dan peneliti dalam membantu pengendalian persebaran virus Covid-19.

Tim ahli dan peneliti UI juga tengah melakukan dua pengembangan pada SiCovid-19. Pertama, pengembangan peta jangkauan dan rerata waktu tempuh masyarakat menuju RS rujukan nasional.

Peta tersebut dapat mengetahui wilayah mana saja yang tidak terlayani dengan baik, dilihat dari waktu tempuh menuju RS rujukan nasional. Kedua, analisis konsentrasi NO2 untuk mengetahui apakah physical distancing dan working from home efektif dalam menekan mobilitas masyarakat.NB

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here