Indonesia Butuh Ribuan Data Scientist

107

Indonesia membutuhkan banyak tenaga kerja dengan keahlian sebagai data scientist atau ilmuwan data untuk mengembangkan industri berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan perusahaan start up (rintisan) serta menghadapi era Revolusi Industri 4.0 . Menurut Syafri Bahar, Vice President Data Gojek  mengutip data Kominfo RI, setiap tahunnya Indonesia membutuhkan 600 ribu data scientist dari berbagai bidang seperti analis data, intelijen data, rekayasa data, kecerdasan buatan, matematikawan hingga aktuaris. Kebutuhan data scientist ini didasari oleh makin seringnya masyarakat menggunakan berbagai aplikasi TIK dalam kehidupan sehari-hari.

Dia lantas mengambil data yang ada pada aplikasi Go Food. “Dalam sehari kami memproses 7,7 juta transaksi di aplikasi Go Food saja. Tentu saja big data tadi harus dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga menjadi bahan bagi perusahaan seperti Gojek untuk terus berinovasi sehingga dapat memunculkan layanan baru,” ujar Syafri Bahar saat tampil sebagai salah satu pembicara dalam kegiatan Talkshow on Data Sciences & Higher Education in Indonesia, Data Acquisition, SuperApps, Insight&Decision Support yang digelar oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Jember (14/12/2019).

Syafri mencontohkan kelahiran Go Food berawal dari data dimana 80 persen pengguna jasa antar barang di Gojek menggunakan aplikasi ini sebagai jasa antar makanan. “Data tersebut kami olah dan analisa sehingga kemudian kami mengembangkan aplikasi Go Food di tahun 2015 yang kemudian diikuti oleh layanan-layanan lainnya. Kesemuanya berawal dari data,” ungkap matematikawan lulusan Universiteit Twente, Belanda ini. Sukses memanfaatkan data ini juga lah yang menjadi salah satu penyebab Gojek melesat menjadi Decacorn. Kini 1 % warga Indonesia menggantungkan hidupnya pada Gojek dengan valuasi Gojek yang mencapai 136 triliun rupiah.

Kebutuhan data scientist juga disampaikan oleh Emil Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur yang menjadi pembicara selanjutnya. Menurutnya Pemprov Jawa Timur serius menjalankan program Smart Province dengan kinerja Cepat, Efisien, Tanggap, Transparan, Responsif (CETTAR) berdasarkan pada big data.

“Misalnya saja kita sedang melakukan tabulasi silang antara data kemiskinan, kesehatan dan pendidikan warga Jawa Timur sehingga menghasilkan data komprehensif yang dapat menjadi dasar dalam merumuskan berbagai kebijakan. Oleh karena itu Jawa Timur perlu banyak data scientist termasuk dari Universitas Jember,” jelasnya.

Emil Dardak lantas memaparkan konsep Millenial Job Center (MJC) yang digagas Pemprov Jawa Timur sebagai salah satu wahana yang diharapkan dapat mendorong lahirnya makin banyak data scientist di Jawa Timur.

“Millenial Job Center mempertemukan antara talenta-talenta berbakat di TIK dan pelaku industri kreatif yang dibina oleh para mentor dengan klien yang membutuhkan ide-ide dan tenaga mereka. Harapannya makin banyak tenaga kerja yang akrab dengan big data serta usaha rintisan yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur,” kata Emil Dardak. Rencananya Millenial Job Center akan berada di bawah Bakorwil yang ada di Jawa Timur.

Tantangan untuk mencetak data scientist ditanggapi positif oleh Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember. Menurutnya Universitas Jember terus mengembangkan berbagai aplikasi TIK dalam proses layanan akademis dan non akademis sehingga memudahkan mahasiswa, dosen dan karyawan menjalankan tugas-tugasnya.

“Seperti saat ini kami meluncurkan Sistem Informasi Terpadu atau Sister Next Generation dengan berbagai layanan baru sehingga penerapan e-learning di Kampus Tegalboto diharapkan makin berjalan dengan baik,” tuturnya bangga.

Langkah cepat juga diambil oleh Universitas Jember dengan merintis kerja sama dengan program READI (Risk Management, Economic Sustainability and Actuarial Science Development in Indonesia).

Sebelum kegiatan talkshow diadakan, terlebih dahulu digelar diskusi yang melibatkan Direktur READI, Jean Lowry bersama Vice President Data Gojek dengan para dekan, dosen dan mahasiswa Universitas Jember di aula lantai 2 gedung rektorat. Dalam pemaparannya, Jean Lowry menjelaskan salah satu bidang yang digarap oleh  data scientist, yakni profesi aktuaris.

“Aktuaris adalah orang yang bertugas mengelola dan mengurangi dampak resiko finansial dalam suatu usaha. Dalam menjalankan tugasnya, dewasa ini seorang aktuaris selain menerapkan ilmu matematika, statistik, dan bisnis juga mendasarkan analisanya pada big data hingga kecerdasan buatan,” ungkap Jean Lowry yang juga dosen di University  of Waterloo ini.

Program READI ini memperkenalkan profesi aktuaris dan program studi aktuaria di Indonesia dengan bantuan dari pemerintah Canada. Pihaknya  juga bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan dan sudah menjalin kerja sama dengan 12 perguruan tinggi di Indonesia.

“Pemerintah Canada melalui University of Waterloo juga menyediakan beasiswa S2 untuk bidang kecerdasan buatan dan analisa big data,” kata Jean Lowry .|Ikh

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here