Optimalisasi Kualitas Dosen Vokasi Melalui Pengiriman Program Retooling ke Luar Negeri

70

Sertifikasi kompetensi diperlukan secara merata, baik bagi mahasiswa vokasi, dan dosen vokasi itu sendiri guna meningkatkan kepercayaan industri dan masyarakat terhadap lulusan perguruan tinggi vokasi yang ada di politeknik dan universitas di Indonesia

“Mahasiswanya kita dorong harus punya sertifikat kompetensi, tapi ternyata dosennya tidak punya sertifikat kompetensi, maka perlu dilakukan yang namanya retooling. Saya sudah lakukan secara besar-besaran pada 2018 ini, mengupgrade para dosen yang belum mendapatkan sertifikat kompetensi pada bidangnya, untuk mendapatkan sertifikat kompetensi, apakah di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat membuka Seminar Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi di Indonesia dengan topik Implementasi Pendidikan Sistem Ganda (Dual System) di Universitas Prasetiya Mulya pada Rabu (17/07/2019).

Menurutnya, dalam upaya memberikan sertifikasi kepada para dosen, ‘retooling’ atau pengenalan teknologi terbaru kepada para dosen, Kemenristekdikti masih kesulitan mencari para dosen yang berkeinginan untuk mengikuti ‘retooling’ ke luar negeri, seperti Kanada, Swiss, dan Jerman.

“Kalau yang internasional, bujet akan kita keluarkan, bahkan tahun lalu saya menganggarkan sampai dua ribu orang, ternyata yang daftar hanya tiga ratus – empat ratus. Ternyata tidak mudah mencari orang. Dosen kita banyak, tapi ternyata tidak mudah mencari yang siap mengikuti program ini,” ungkap Menristekdikti.

Menteri Nasir juga menyoroti banyak tenaga kerja di Indonesia yang belum memiliki sertifikasi, padahal dalam profesinya, ada hal yang perlu dipastikan, seperti keamanan kerja dan pelayanan kepada pelanggan. Salah satu pekerja yang belum banyak memiliki sertifikasi kompetensi adalah pekerja di bidang pariwisata.

“Untuk pariwisata, saya datang ke Labuan Bajo. Di Labuan Bajo itu spot untuk pariwisata bagus sekali. Pada saat saya datang itu 2017 awal ke lokasi itu, lihat kalau ini daerah wisata, nakhoda kapalnya saya tanya, “Bapak punya sertifikat menjadi nakhoda?” (Nakhoda tersebut menjawab),” Saya hanya turunan dari bapak saya.” Wah, ini bahaya juga. Kalau tenggelam, bagaimana. Ini tidak boleh, saya waktu itu berpikir seperti itu,” ungkap Menristekdikti.

Menteri Nasir juga menyoroti, dengan adanya pendidikan vokasi yang dekat dengan industri, banyak potensi daerah yang bisa diunggulkan, apabila para pekerjanya memiliki sertifikasi profesi dan bekerja sesuai standar profesional.

“Yang kedua, kita membawa turis, wisatawan, harusnya pakaiannya baik. Nakhodanya harus baik. Masa nakhodanya pakai kaos, celana pendek. Bagaimana orang asing bisa tertarik? Belum nanti di pelabuhannya. Pelabuhan nelayan, pelabuhan wisata digabung. Belum lagi sampahnya,” papar Nasir.|ng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here